Selasa, 14 September 2021

Cara turun untuk sujud yg benar

 

‌Soal : kita sering melihat kaum muslimin saling menyalahkan perihal masalah turun ketika sujud, apakah didahulukan lutut atau tangan, maka apakah kita memang harus saling menyalahkan mengenai masalah ini? Bagaimana dengan dalil mengenai masalah ini?


Jawab :

Bismillahirrahmanirrahim, shalawat atas sidna nabi muhammad SAW, dan shabat2nya serta alu baitnya. Ini adalah masalah yg telah selesai pembhasanya semenjak lama, alangkah lebih baik kita mengajak manusia untuk khusyuk dalam shalatnya, dan bertadabbur dan munajat.

 Adapun masalah cara sujud apakah didahulukan lutut atau tangan, adalah masalah yg kita harus bertoleransi dan tak saling menyalahkan dan terlalu syadid (keras) padanya.

 Maka jika seorang muslim mengamalkan salah satunya maka shalatnya shah dengan ittifaq ulama, hanya sanya mahal khilafnya atau letak perbedaannya adalah manakah yang lebih afdhol?,



1. menurut jumhur yaitu abu hanifah, syafii, ahmad, annakha'i,sufyan ats tsauriy, ishaq bin rahawaih, dan muslim bin yasar asshabri, mendahulukan lutut dari pada tangan adalah lebih afdhal.

Mereka berhujjah dengan hadits yg diriwayatkan dari wa'il bin hujr

قال رضي الله عنه ((رأيت النبي صلى الله عليه وسلم إذا سجد وضع ركبتيه قبل يديه، و إذا نهض رفع يديه قبل ركبتيه)) أخرجه أبو داود فى سننه ٢٤٢/١

Berkata wa'il bin hujr R.A : (( aku melihat nabi SAW apabila sujud ia meletakkan lututnya sebelum tangannya, dan apa bila bangkit ia mengangkat tangannya sebelum lututnya))


Dan diriwayatkan juga dari saad bin abi waqas R.A

كنا نضع اليدين قبل الركبتين فأمرنا بوضع الركبتين قبل اليدين (أخرجه ابن خزيمة فى صحيحه ٣١٩/١)

"Dulu kami meletakkan tangan (ketika sujud) sebelum lutut, lalu kami diperintahkan dengan meletakkan lutut sebelum tangan"


Dan dari annas R.A

رأيت رسول الله صلى الله عليه وسلم كبر ثم انحط بالتكبير حتى سبقت ركبتاه يديه (أخرجه الدارقطنى فى سننه و البيهقي في السنن الكبرى)

"Aku melihat Rasulullah SAW bertakbir kemudian turun (sujud) dengan bertakbir sehingga lututnya mendahului tangannya"

Dan dari abu Hurairah RA dari nabi SAW bersabda :

إذا سجد أحدكم فليبدأ بركبتيه قبل يديه، ولا يبرك بروك الجمل (أخرجه البيهقي فى السنن الكبرى ١٠٠/٢)

"Apabila salah seorang dari kamu sujud maka mulailah dengan lutut sebelum tangan, dan janganlah berlutut seperti berlututnya onta"


menyebutkan imam azzarkasyi dalam kitab syurut attarjih bahwa sesungguhnya apabila berbeda perawi dalam meriwayatkan salah satu dari 2 hadits dan sedangkan periwayat lain sepakat dalam haditsnya, maka periwayatan orang yg tidak ada perbedaan dalam riwayatnya adalah lebih awla (baik) , contohnya hadits wa'il "bahwa sesungguhnya nabi SAW meletakkan lututnya kemudian tangannya kemudian keningnya kemudian hidungnya" dan tidak ada perbedaan riwayat darinya, maka imam Syafi'i berpegang pada hadits tersebut,. Dan diriwayatkan hadits dari abu hurairah yg menyerupai hadits wa'il yaitu mendahulukan lutut dari pada tangan, juga diriwayatkan dari abu hurairah hadits yg melarang demikian (janganlah berlutut seperti unta).


Maka berkata imam Syafi'i " hadits wa'il tidak ada pertentangan dalam riwayat2 nya, maka dia lebih awla dari pada hadits abu Hurairah, sedangkan hadits abu Hurairah ada yg menentanginya."



2. berpendapat malik, al awza'i, dan ahmad dalam suatu riwayat bahwa mendahulukan tanganlah yg disunatkan dari pada lutut, dan mereka berhujjah dengan hadits yg diriwayatkan dari abu Hurairah RA, bahwa nabi SAW bersabda

إذا سجد أحدكم فلا يبرك كما يبرك البعير، وليضع يديه قبل ركبتيه (رواه أبو داود فى سننه ٢٨٣/٢)

"Apabila sujud salah seorang dari kamu maka janganlah ia berlutut seperti berlututnya onta, dan hendaklah ia meletakkan tangannya ketika sujud sebelum lututnya"

 Dan berkata ibnu hazam

و فرض على كل مصل أن يضع -إذا سجد- يديه على الأرض قبل ركبتيه ولابد (المحلى لابن حزم ١٢٨/٤)

" Dan fardhu atas seluruh orang yg shalat meletakkan tangannya ketika sujud sebelum lututnya dan itu mesti"


dari sini kita melihat, bahwa yg lebih afdhal adalah pendapat jumhur ulama. Maka masalah ini tidak seharusnya membuat pikiran manusia sibuk, dan sangat keras dalam mngingkarinya. Nah jika suatu masalah masih khilafiyah antara para ulama maka kita hendaknya jangan terlalu taasshub dalam satu pendapat ulama. Perbedaan pendapat para ulama adalah rahmat.

Wallahua'lam.


Qunut subuh

 Apakah hukum qunut shubuh??

‌Soal :Apa hukum qunut pada shalat shubuh ???



Jawab :

Sesungguhnya permasalahan qunut shubuh adalah masalah fiqh yg far'i, dan tidak semestinya umat islam berpecah dan saling bermusuhan karena hal ini, dalam hal ini sunggu para ulama berbeda pendapat, maka Mazhab Syafi'i dan maliki berpendapat bahwa qunut shubuh adalah sunat, sedangkan mazhab hambali dan ahnaf (hanafi) berpendapat bahwa tidak ada qunut dalam shlat shubuh.


Berkata imam nawawi "ketahuilah ! Sesungguhnya qunut shubuh disyariatkan dalam mazhab kami, dan dia adalah sunat muakkad, dan itu karena hadits yg diriwayatkan oleh anas bin malik RA : 

مازال رسول الله صلى الله عليه وسلم يقنت فى الفجر حتى فارق الدنيا (رواه أحمد فى مسنده، و عبد الرزاق، والدارقطنى فى سننه، ورواه الحاكم في اربعينه و قال حديث صحيح و رواته كلهم ثقة)

(Nabi tetap berqunut di shubuh hingga beliau wafat), 

berkata imam2 Mazhab Syafi'i : dan jika ditinggalkan tidak membatalkan shalat tetapi sunat diganti dengan sujud sahwi, baik karena ditinggalkan sengaja ataupun lupa, dan waktunya adalah setelah bangkit dari ruku'pada raka'at ke dua, jika dibaca sebelum ruku' maka tidak masuk hitungan menurut pendapat yg ashah, maka ia mesti mengulangnya setelah ruku' kemudian sujud sahwi"


Dan juga dinukil dalam qunut shubuh perkataan dan prbuatan sebagian sahabat dan tabiin, diantaranya adalah perkataan ali bin ziyad yg menyatakan kewajiban qunut shubuh dan orang yg meninggalkannya maka shalatnya rusak.

 boleh mengerjakannya sebelum atau sesudah ruku'.



Mazhab Syafi'i menguatkan adanya qunut shubuh karena kuatnya dalil2 mereka diantaranya :

Hadits dari annas bin malik

ما زال رسول الله يقنت فى الفجر حتى فارق الدنيا. و سئل أنس : هل هل قنت رسول الله صلى الله عليه وسلم فى الصبح ؟ قال : نعم. فقيل له : قبل الركوع أم بعد الركوع ؟ قال : بعد الركوع (أخرجه البخاري في صحيحه، ومسلم، وأبو داود فى سننه)

"Rasulullah tetap berqunut dipagi hari hingga beliau meninggal. Dan ditanya anas : apakah Rasulullah berqunut ketika shalat shubuh? Lalu ia menjawab : ya, maka ditanyakan lagi : sebelum ruku' atau sesudah? Ia menjawab : sesudah ruku'."


و عن أبي هريرة قال : والله أنا أقربكم صلاة برسول الله صلى الله عليه وسلم. و كان أبو هريرة يقنت فى الركعة الأخيرة من صلاة الصبح بعد ما يقول سمع الله لمن حمده، و يدعو للمومنين و المومنات و يلعن الكفار (رواه بخارى و مسلم و أحمد و بيهقي)

"Dari abu hurairah ia berkata : demi allah aku adalah orang yg paling dekat shlatnya dengan nabi dari pada kamu (kalian). Dan abu hurairah berqunut pada rakaat akhir shalat shubh sesudah ia berkata (sami'a allahu liman hamidah), dan berdo'a untuk orang mukmin dan mukminat dan melaknat orang2 kafir"


و عن عبد الله بن عباس قال : كان رسول الله صلى الله عليه وسلم يعلمنا دعاء ندعو به فى القنوت من صلاة الصبح :((اللهم اهدنا فى من عافيت، و تولنا في من توليت، و بارك لنا فى ما أعطيت، وقنا شر ما قضيت، إنك تقضى و لا يقضى عايك، إنه لا يذل من واليت، تباركت ربنا و تعاليت))

"Dari Abdullah bin Abbas berkata : Rasulullah SAW mengajarkan kami do'a yg kami baca ketika qunut shubuh : ((اللهم اهدنا فى من عافيت، و تولنا في من توليت، و بارك لنا فى ما أعطيت، وقنا شر ما قضيت، إنك تقضى و لا يقضى عايك، إنه لا يذل من واليت، تباركت ربنا و تعاليت))"

Dan menambahkan para ulama pada do'a qunut itu (( ولا يعز من عاديت)) sebelum tabarakta, dan seaudahnya ((فلك الحمد على ما قضيت، أستغفرك و أتوب إليك )). Bekata nawawi dalam kitab raudhah "berkata shahabat2 kami (ulama mazhab Syafi'i) tidak apa2 dengan penambahn ini, dan berkata abu hamid dan albandaniji dan yg lain, bahwa itu adalah mustahab", dan disunatkan mengakhiri doa tersebut dengan shalawat pada baginda rasul. Dan demikianlah didalam pendapat shahih lagi masyhur.


Maka sebagaimana yg sudah kita ketahui, kita bisa liat kekuatan mazhab Syafi'i dalam menetapkan bahwa qunut shubuh itu adalah sunat, dan disunatkan pula bagi yg meninggalkannya untuk sujud sahwi, tetapi tidak rusak shlat dengan meninggalkannya.

Ingat perbedaan pendapat ulama adalah rahmat.

Wallahu ta'ala a'la wa a'alam.

Cara turun untuk sujud yg benar

  ‌Soal : kita sering melihat kaum muslimin saling menyalahkan perihal masalah turun ketika sujud, apakah didahulukan lutut atau tangan, mak...